benvenuti nel mio blog

Selamat datang di blog saya. Blog ini adalah persembahan hati saya, bukan pikiran saya.

Rabu, 22 Juli 2015

Pisahkan Hati dari Pikiranmu!



Tindakan kita selama ini dipengaruhi oleh hati, pikiran, dan emosi. Hati, pikiran, dan emosi memiliki sifatnya masing-masing. Hati cenderung stabil, pure, dan positif. Pikiran cenderung dinamis karena merupakan hasil dari belajar, pengalaman dan dogma-dogma. Sedangkan emosi memiliki sifat fluktuatif karena terjadi bisa kapan saja dan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti suhu, curah hujan, dan lain sebagainya. Dalam kondisi ceteris peribus tindakan kita selama ini dipengaruhi oleh Hati dan Pikiran. Oleh karena, tulisan saya kali ini akan menjelaskan mengenai hati dan pikiran dan bagaimana memisahkan hati dan pikiran dalam melakukan tindakan.

Hati
Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging yang jika baik, akan baiklah seluruh tubuh dan sebaliknya jika rusak, akan rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah sepotong daging itu adalah hati” (Akhmad SAW)
Dari hadits Nabi di atas kita bisa mengetahui bahwa sesungguhnya hati mempunyai sifat dasar netral, murni, putih, suci, dan tulus. Hati yang memiliki sifat dasar baik, murni, putih, suci, dan tulus ini bisa rusak. Apa yang membuat hati rusak?? Yang membuat hati rusak adalah pikiran. Pikiran membuat hati tidak netral lagi, tidak murni lagi, tidak putih lagi, tidak suci lagi, dan tidak putih lagi. Hati adalah raja, Pikiran adalah para bawahan Raja. Hati paling berkuasa, tetapi tidak berkuasa lagi jika dipengaruhi oleh pikiran. 

Pikiran
Pikiran adalah buah dari pengetahuan dan pengalaman, termasuk di dalamnya norma (norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum) dan dogma-dogma (dogma Agama, dogma politik). Pikiran adalah salah satu faktor internal (selain hati) yang membentuk tindakan. Walaupun pikiran menjadi faktor internal, tetapi pikiran-pikiran tersebut berasal dari faktor-faktor eksternal, yaitu pengetahuan dan pengalaman. Oleh karena itu Pikiran bisa disebut sebagai faktor semi-internal dalam membentuk tindakan. Sedangkan hati merupakan faktor internal yang murni dalam membentuk tindakan.

Tindakan = (Hati + Pikiran) + Emosi
Saya ulangi lagi bahwa tindakan terbentuk dari tiga faktor, yaitu hati sebagai faktor internal, pikiran sebagai faktor semi-internal, sedangkan emosi sebagai faktor eksternal. Tetapi dalam kondisi ceteris peribus yang membentuk tindakan hanya hati dan pikiran karena emosi sifatnya fluktuatif dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. 

Tindakan = (Hati + Pikiran)
Dalam kondisi ceteris peribus Tindakan dibentuk dari Hati dan Pikiran. Hati bersifat netral (0), Pikiran bersifat (+) dan (-). Hati bersifat dasar netral, murni, putih, suci, dan tulus. Hati berasal dari Tuhan sehingga secara naluriah akan mengenali tanda-tanda kekuasaan Tuhan sehingga manusia (yang di dalamnya terdapat hati) akan melakukan tindakan sesuai dengan sifat dasar alami sebagai ciptaan Tuhan. Oleh karena itu hati tidak mengenal baik dan buruk, salah dan benar karena di dunia ini pada dasarnya tidak ada yang namanya salah dan benar. Pikiran lah yang membentuk tindakan kita menjadi benar dan salah karena Pikiran berasal dari pengetahuan dan pengalaman yang diciptakan manusia (manusia bukan Tuhan). Padahal tindakan yang menurut kita benar belum tentu benar, dan tindakan kita yang salah belum tentu salah. Oleh karena itu kita perlu memisahkan Pikiran dari tindakan.

Tindakan = Hati
Perlunya memisahkan Pikiran dalam membentuk tindakan adalah agar tindakan kita berasal dari hati. Hati bersifat netral, murni, putih, suci, dan tulus. Sehingga tindakan kita berasal dari Hati maka kita tidak terjebak dalam perangkap pengetahuan dan pengalaman yang menjebak kita dengan istilah baik dan buruk, salah dan benar. Tindakan yang berasal dari Hati akan terlihat netral, murni, putih, suci, dan tulus di mata orang lain. Oleh karena itu kita akan hidup berbahagia.